Terlambat hanya untuk mereka yang punya batas waktu.
Tetapi belajar tidak pernah membatasi waktu.
Terlambat hanya persepsi sebagian orang.
Sebagian lainnya sedang menikmati tiap proses yang ada.
Ibaratnya ada seseorang dari Jakarta ingin ke Jogja untuk berlibur. Menikmati keindahan kota dan alam disana, lalu tidak sabar ingin sampai pada tujuannya. Mungkin yang seperti itu akan memilih naik pesawat agar cepat sampai, atau mungkin berkendara lewat jalan tol.
Dilain sisi, ada seseorang ingin ke tujuan yang sama, namun ia berjalan lebih lambat dari yang lain. Ia berkendara melalui jalur tanpa tol. Sesekali mampir sekadar melihat keindahan di kota yang sepanjang jalan ia temui. Bukan berarti tidak fokus pada tujuan, tetapi dia tidak ingin menyia-nyialam keindahan perjalanannya. Apakah ia terlambat untuk sampai ke Jogja? Jika iya, mungkin karena kita pikir ia punya batas waktu. Namun kenyataannya tidak. Bisa jadi, justru ia sedang tidak membatasi waktunya, sebab belum tentu perjalanan itu bisa ia temui lagi lain waktu. Iya kan?
Alasanku berfikir seperti itu,
Dulu aku kira semua pekerjaan selalu dibatasi waktu dan harus mencapai tujuan.
Aku hampir tidak menikmati masa-masaku semasa di sekolah, karena tujuanku hanya pada angka dan kompetisi di sekolah.
Aku kira menjadi yang terbaik akan membekas dibenak orang lain untuk waktu yang lama. Aku kira setiap kompetisi punya penghargaan.
Tapi ternyata, dugaanku dulu itu salah.
Angka terbaik dan kompetisi yang menjadi tujuanku itu bukan apa-apa setelah aku mendapatkannya.
Pernah aku menyia-nyiakan waktu bersama teman hanya untuk belajar dan mengejar nilai. Namun setelah dapatkan tujuan, aku menyesal. Karena perjalananku semasa sekolah itu, telah aku lewatkan begitu saja.
Sekarang ini bagiku, belajar tidak hanya dari buku pelajaran tapi ada juga dari pengalaman. Aku ingat betul saat pelarianku ke perpustakaan SMP untuk mencari buku pelajaran. Aku menemukan novel bertema perjalanan yang ada disusunan rak paling bawah. Sampulnya tampak seperti novel lama, kertasnya sudah nampak bercak buku lama dan kuning sekali, tapi itu novel pertama yang aku baca. Bercerita tentang pendakian gunung Bromo. Mulai saat itu aku penasaran dengan pendakian dan penjelajahan. Detik itu juga aku akui bahwa buku benar-benar jendela dunia, benar kata pepatah. Meski aku tidak pergi langsung ke gunung, tapi aku dapat merasakan suasananya hanya dengan membaca.
7 tahun setelah aku membaca novel itu, aku melakukan pendakian untuk pertama kalinya yaitu ke puncak basundra (Gunung Panderman). Itu adalah pertama kali yang membuatku candu hehe.. Cerita lengkapnya ditunggu yaa..
Dilain sisi, ada seseorang ingin ke tujuan yang sama, namun ia berjalan lebih lambat dari yang lain. Ia berkendara melalui jalur tanpa tol. Sesekali mampir sekadar melihat keindahan di kota yang sepanjang jalan ia temui. Bukan berarti tidak fokus pada tujuan, tetapi dia tidak ingin menyia-nyialam keindahan perjalanannya. Apakah ia terlambat untuk sampai ke Jogja? Jika iya, mungkin karena kita pikir ia punya batas waktu. Namun kenyataannya tidak. Bisa jadi, justru ia sedang tidak membatasi waktunya, sebab belum tentu perjalanan itu bisa ia temui lagi lain waktu. Iya kan?
"Pada akhirnya, keduanya akan sampai pada tujuan. Yang membedakan hanya waktu sampai dan tabungan pengalamannya."
Alasanku berfikir seperti itu,
Dulu aku kira semua pekerjaan selalu dibatasi waktu dan harus mencapai tujuan.
Aku hampir tidak menikmati masa-masaku semasa di sekolah, karena tujuanku hanya pada angka dan kompetisi di sekolah.
Aku kira menjadi yang terbaik akan membekas dibenak orang lain untuk waktu yang lama. Aku kira setiap kompetisi punya penghargaan.
Tapi ternyata, dugaanku dulu itu salah.
Angka terbaik dan kompetisi yang menjadi tujuanku itu bukan apa-apa setelah aku mendapatkannya.
Pernah aku menyia-nyiakan waktu bersama teman hanya untuk belajar dan mengejar nilai. Namun setelah dapatkan tujuan, aku menyesal. Karena perjalananku semasa sekolah itu, telah aku lewatkan begitu saja.
Sekarang ini bagiku, belajar tidak hanya dari buku pelajaran tapi ada juga dari pengalaman. Aku ingat betul saat pelarianku ke perpustakaan SMP untuk mencari buku pelajaran. Aku menemukan novel bertema perjalanan yang ada disusunan rak paling bawah. Sampulnya tampak seperti novel lama, kertasnya sudah nampak bercak buku lama dan kuning sekali, tapi itu novel pertama yang aku baca. Bercerita tentang pendakian gunung Bromo. Mulai saat itu aku penasaran dengan pendakian dan penjelajahan. Detik itu juga aku akui bahwa buku benar-benar jendela dunia, benar kata pepatah. Meski aku tidak pergi langsung ke gunung, tapi aku dapat merasakan suasananya hanya dengan membaca.
7 tahun setelah aku membaca novel itu, aku melakukan pendakian untuk pertama kalinya yaitu ke puncak basundra (Gunung Panderman). Itu adalah pertama kali yang membuatku candu hehe.. Cerita lengkapnya ditunggu yaa..
Takut? Tentu saja ada rasa itu, tapi entah kenapa aku selalu rindu mendaki lagi. Dan 2 tahun setelahnya, aku berhasil melihat gunung bromo secara langsung. Menikmati keindahan diatas awan, dinginnya pegunungan, indahnya pemandangan.
7 atau total 9 tahun memanglah waktu yang sangat lama untuk sampai pada tujuan. Namun selama itu, aku tidak pernah menyesal telah melewati banyak hal. Karena perjalanan yang ku tempuh kali ini selalu punya kejutan dan keindahan-keindahan disetiap perjalanannya. Hitung-hitung memberanikan diri ke alam, sembari meyakinkan orang tua bahwa aku akan baik-baik saja.
Untuk kamu yang merasa tidak percaya diri karena berjalan lambat, tenang dan bersabarlah..
Melihat ke depan hanya akan membuatmu takut karena nampaknya masih jauh,
Sesekali tengoklah ke kanan atau kiri,
Karena jalan itu belum tentu akan kau lewati dua kali. :)
Sumber : pengalaman pribadi
Terima kasih sudah membaca, semoga selalu ada manfaat dari pengalamanku yang bisa kamu petik. Meski hanya sepucuk daun. Hehehe
Kamu tetap bebas memilih untuk cepat sampai pada tujuan atau menikmati prosesnya. Semua pilihan tetap ada padamu ya, kawan.. Kamu yang memegang kuasa penuh atas dirimu sendiri. Semangat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komentar positif yang membangun sangat diharapkan :)
tapi bukan berarti yang negatif gak boleh kok, siapapun bebas berkomentar :)
terima kasih