25 Juli 2021

Ramai Berubah Sepi

Aku si pecinta keramaian,
mendadak damai dengan kesunyian.
Tiada lagi kebisingan,
atau suara riuh kerumunan.

Malam ini,
kepakan nyamuk terdengar jelas ditelinga,
diikuti alunan suara berdenging.
Membuatku semakin percaya,
bahwa sunyi tidak benar-benar hening.

Fana sepertinya asik mengitariku.
Dan aku terjebak dalam fatamorgana pikiran,
Yang berisik dalam pejaman mata.

Berulang kali semu menjebakku,
Menciptakan asa yang ku tau itu palsu.
Namun kendali sepertinya lepas dariku,
Membiarkan harapan itu lahir,
Tanpa kecewa yang ikut hadir.

by : @filsaardelia

-
Note :
Aku benci sepi, tapi kini ku biarkan ia menyelimuti diri.
Keramaian dan kebebasan yang menjadi favoritku, tampak hampir mustahil untuk saat ini. 
Sepertinya benteng-benteng mulai terbentuk disekitarku.
Menyesakkan, namun inilah kenyataan.
Malam yang damai menjadi seram. Siang yang cerah menjadi terik.

Inilah catatanku yang kelak akan menjadi sejarah,
bahwa beberapa dari kita gugur tanpa peperangan,
terus-menerus melukis harapan yang akhirnya berujung kehilangan,
berulangkali terbentur kenyataan namun dituntut untuk terus bertahan.

Lalu sebenarnya dengan siapa kita bertarung?
Apakah dengan diri sendiri?
Atau dengan sesuatu yang orang sebut pandemi?

Jika dipikir lagi, lawan sepertinya tak kasat mata.
Itu lebih sulit dari yang nyata dan terlihat.
Sudahlah, tak peduli siapa lawannya, tak ada lagi alasan untuk menyerah.
Bukankah lebih baik berserah?
Kepada yang berkuasa atas segala hal,
Agar semua kembali normal.
- @filsaardelia -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar positif yang membangun sangat diharapkan :)
tapi bukan berarti yang negatif gak boleh kok, siapapun bebas berkomentar :)
terima kasih

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Berhenti